Forum Silaturrahim

Sunday, November 08, 2009

Saskatoon, Saskatchewan, Alberta, Canada 1982

Saskatoon, Saskatchewan, Alberta, Canada 1982
I was a group leader of Indonesia-CWY Program 1982-1983. Winter in Saskatoon, freezing

Christine Greenaway 1984

Christine Greenaway 1984
Christine was Simon J Liston spouse. This couple was my housemate in Toronto, Can 1984

Keluarga Mahasiswa Minang, Kairo

Keluarga Mahasiswa Minang, Kairo
Piramid

Tim Seleksi KPU Sumbar

Tim Seleksi KPU Sumbar
Serahterima berkas Adm 19 Feb 08

Mohon tanggapan Anda terhadap Blog ini

My Family 1985

My Family 1985
With my beloved wife Imnati, my kids Putri Bulqish, Iqbal Shoffan and Shofwim at Gate Cave Payakumbuh

Shofwan Karim

Shofwan Karim
Pegiat Masyarakat

Slideshow

Loading...

WIDYA FITRI IN US

WIDYA FITRI IN US
studentts exchange

Blog Archive

A moment after wedding 1977

A moment after wedding 1977
We were young couple

Slideshow

Loading...

Labels

Hikmi_Abdeen_Aswita_Long Island

Hikmi_Abdeen_Aswita_Long Island

Imnati I Shofwan

Imnati I Shofwan
Our visit to UK, July_August 2004

Melawan Kultur Idol-Fantasia

Nagari , Alternatif Melawan Kultur Idol-Fantasia
Oleh Shofwan Karim
Kembalinya sistem pemerintahan nagari di Sumbar, harus diisi dengan berbagai skema pencerahan masa depan generasi. Salah satu di antaranya adalah menjadikan komunitas warga muda nagari sebagai basis melawan kultur idol (baca: aidel) dan fantasia . Yang dimaksud dengan kultur idol dan fantasia di sini adalah pengagungan terhadap corak hidup seleberiti yang menuhankan kebebasan relasi. Baik lawan jenis dan bukan mustahil perilaku menyimpang sesama jenis.
Telah lahir satu generasi pelangi. Mereka menghebohkan diri dengan aksi penampilan diri, intelektual dan kecakapan emosi dalam konteks, fisik, lahiriah dan badaniah. Kemampuan olah vokal, olah tubuh dan kemegahan pribadi sebagai dasar populeritas untuk disanjung dan dipuja. Ukuran tubuh, make up, bentuk wajah dan tinggi badan serta postur tubuh, semuanya menjadi lokus unggulan.
Kultur idol dan fantasia, sekarang tengah popular di seantero dunia. Ada American idol, ada Malaysian idol, ada Indonesian idol. Begitu pula ada akademi fantasi indosiar atawa akademi fantasi Mexico dan lainnya. Ini murni produk media elektronika dan grafika. Perkembangan lanjutan dari repleksi kultur MTV, TV Star, panggung gembira, goyang dang dut, joget ria dan seterusnya. Ujungnya melahirkan “Buruan Cium Gue” alias BCG yang kadung heboh pekan lalu dan alhamdulillah, ditarik dari peredaran. Tentu saja penarikan itu karena para ulama menghujatnya.
Semua paket ini adalah salah satu dari produk teknologi informasi yang memberikan repleksi kemewahan sesaat. Ia menguraikan luapan rasa bangga, haru, suka, sekaligus duka yang jauh menyelusup ke lubuk dan relung-relung hati. Pengaruhnya terasa melintasi nagari-nagari sampai ke ujung dunia . Meskipun partisipan, aktor dan aktrisnya adalah ABG dan remaja muda, namun penggemarnya mulai dari kanak-kanak sampai ke orang dewasa bahkan melintasi kakek-nenek tua jompo. Agaknya, massa yang ngefans ke idol-fantasia ini melebihi massa pengajian TV Aa Gym atau Hj. Irene Handono dan massa kelompok zikir ustazd Ilham dan seterusnya.
Menurut beberapa pengamat pada beberapa negara, kultur idol dan fantasia ini telah mengubah sebagian besar perilaku remaja metropolitan . Terjadi secara drastis dan revolusioner perubahan orientasi masa depan mereka. Di antaranya memunculkan anggapan rendah terhadap profesi ideal. Mereka tidak lagi mau berprofesi sebagai guru, dokter, perawat dan pekerja sosial, apalagi muballigh .
Khayalan mereka terbang jauh melintasi awan dan angkasa. Terbuai oleh kemilau duniawi yang bak melayang-layang di alam syurga. Hidup dalam gelimang madu fatamorgana. Dan apakah mereka siap dengan konsekuensi habis manis sepah dibuang ?. Belum tentu.
Alangkah rawannya. Kini nuansa dan corak kehidupan itu sengaja atau tidak, langsung atau tidak, juga tengah melanda khayalan kaum muda jauh ke pelosok nagari-nagari. Apalagi akibat kemajuan yang begitu pesat. Terjadi lompatan di sektor transportasi, listrik, teknologi informasi, hand-set, digital, elektronika dan grafika. Semua yang ada di kota sama ada dengan yang di nagari-nagari.
Menghadapi serangan brutal kultur idol-fantasia ini, tentu semua kita mesti pasang kuda-kuda dan waspada. Terutama di lingkungan masyarakat nagari. Adakah kesiagaan itu?. Tentu saja, di samping upaya perorangan, rumah tangga, kolegial, lingkungan kekerabatan, lebih-lebih lagi upaya institusional dan kelembagaan. Sebutlah pimpinan dan perangkat nagari sebagai wadah eksekutif. Begitu pula legislatif dan yudikatif nagari. Seperti Badan Musyawarah Adat dan Syarak di Nagari. Atau Badan Perwakilan Anak Nagari dan nama lain yang ujud telah ada di nagari-nagari sekarang ini.
Pada beberapa kota dan kabupaten, dan tentu saja ini akan melingkupi nagari-nagari, ada bala bantuan insitusional yang memungkinkan. Misalnya pranata sosial yang relative sudah dianggap baku. Seperti rumah gadang milik suku, lapau, balairuang, mushalla dan masjid. Memang akan ada yang protes, tidak setuju mengaitkan dengan pranata sosial ini. Akan tetapi “haqqul yaqin” bahwa rumah gadang, lapau, mushalla dan masjid masih tetap berfungsi menjadi media tranformatif yang masih valid atau shahih.
Soalnya sekarang begini. Adakah kemauan, kemampuan dan mekanisme dari pihak pemegang otoritas maupun masyarakat madani setempat mengerahkan daya dan upaya serta merekat segala potensi yang ada untuk mendorong semuanya itu. ? Produk legislatif pada beberapa daerah tentang kewajiban berpakaian muslim dan muslimah sepanjang tugas dan ruangan pendidikan, amatlah positif.
Begitu pula perda yang mengatur keharusan pandai baca tulis hruf al_Qur’an serta kepandaian pokok sebagai muslim dan muslimat untuk berumah-tangga. Termasuk di sini pula bahan ajar di sekolah tentang Budaya Adat Alam Minangkabau. Itu semua dapat menjadi modal dasar kerohanian menerapkan nilai-nilai dan simbolik keagamaan untuk bergerak maju.
Namun, alangkah bakal sia-sianya, kalau virus idol-fantasia tadi tidak ada yang menolaknya. Paling tidak harus diciptakan strategi yang tepat. Gunanya untuk menghindari imitasi dan identifikasi diri kalangan warga muda di nagari-nagari terhadap idol-fantasia tadi. Inilah dambaan yang bukan mustahi. Allhu ‘alam bi al-shawab. ***

Idul Fitri 1429 H_2007 M

Idul Fitri 1429 H_2007 M
Di depan rumah Pak Etek H. Hurnis dan Hj. Animar. Kelg. Pyk, Bdg, Jkt. Pdg

Wisuda UNISBA Shofwim Shofwan, S.Psi

Wisuda  UNISBA Shofwim Shofwan, S.Psi
Adam, Opim n Iqbal, di Bandung, 9 Sept 2006

Slideshow

Loading...