In Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi dan Ormas

http://www.shofwankarim.blogspot.com

Dr. H. Mafri Amir, M.A



In Memoriam(1) :  

Mafri Amir,  Wartawan, Akademisi dan Ormas

Oleh Shofwan Karim


In Memoriam(1) :  

Mafri Amir,  Wartawan

In Memoriam(1) :  


Mafri Amir bersama isterinya Roslaini

Oleh Shofwan KarimOleh Shofwan Karim


Mafri Amir, lengkapnya  Dr. Drs. H. Mafri Amir, B.A., M.A. Sebagian teman memanggil Mafri Amir, sejak muda dengan kependekan MA. Perawakan badan bulat, kening lebar, rambut lurus, dan tinggi sedang.   Postur rata-rata Baby Boomer  ada pada MA. Cocok dengan  teori generasi pra-milenial, tokoh berusia 63 tahun itu. MA adalah  sahabat semua orang kenalan lama atau baru. 


Beberapa pekan lalu,  sahabat karib ini masuk rumah sakit.  Saya bertanya kepada, Rifa, putri MA. Katanya sudah pulang ke rumah di Pamulang.  Saat itu masa terapi di rumah dan sudah banyak perkembangan. Keluarga kami  berencana akan berkunjung-bezook Selasa, 28/12/. Kata Rifa, “baik pak,  selesai beliau terapi”. 


Tiba-tiba pagi 27/12 lalu, saya kaget membaca pesan WA. Mantan wartawan Haluan padang, Drs. H. Herman L Dt. Rangkayo Bandaro Anggota DPR RI 1999-2004 menulis, “ Innalillahi wa innailaihi rajiun.  MA  berpulang ke Rahmatullah, Senin pukul 09.47 pagi di rumah Sakit Hermina, Ciputat,  Jakarta Selatan. Padahal, Kamis 23 Desember, saya (Herman) sempat bezook ke rumah almarhum”. 

“ Ternyata itu pertemuan terakhir saya dengan sahabat Mafri Amir yang tak pernah dibayangkan. Waktu itu sahabat karib ini tak bisa lagi dajak bicara, hanya pakai isyarat. Tentu semuanya atas ketentuan Allah swt. Selamat jalan sahabat,” kata Herman L. 


Lama saya tertegun mengulang kalimat istirja’ , “Innallihi rajiun”.  Ingatan saya berpendar ketika membaca tulisan Dr. Abdullah Khusairi, M.A. Hanya selang berapa puluh menit pasca berita duka itu, sudah tayang  di https://www.topsatu.com/wartawan-senior-mafri-amir-berpulang/. Yang lain  ada di Antara, Wartawan senior Mafri Amir berpulang - ANTARA Sumbar (antaranews.com), Wardas Tanjung di In Memoriam: Mafri Amir yang Saya Kenal | Semangat News, dan Nofi Sastera di In Memorium DR. H. Mafri Amir, MA Si Jago Lobby itu Kembali ke Haribaan-Nya | Semangat News, In Memorium DR. H. Mafri Amir, MA Si Jago Lobby itu Kembali ke Haribaan-Nya – Majalah Intrust. Syafruddin Al, https://imeskaworld.tumblr.com/post/671872195184689152/selamat-jalan-buya-mafri-amir-jualan-film-di

Saya sendiri bertemu wajah trakhir kali  ketika berkunjung ke rumahnya di Pamulang. Saat itu MA segar-bugar bersama isteri, anak dan cucunya. Itu kejadian jauh  sebelum Pandemik Covid-19 Maret 2020.  Sejak itu hanya bertelepon ria. Banyak hal yang kami “ota”kan dengan canda dan gaya “garah” MA. 

Tentu saja siapa almarhum MA,  secara singkat sudah ada di link di atas. Lebih dari itu,  ternyata teman-teman lain sama dengan Saya merasa persahabatan dengan almarhum begitu mendalam.  Bahkan pada  In Memoriam yang mereka tulis tadi,    dalam momen dan versinya masing-masing menyebut nama sahabat-sahabat lain yang membersamai tugas jurnalistik dengan MA. 

Tokoh wartawan senior ini semula menjadi dosen Fakultas Dakwah di IAIN IB dan kemudian pindah menjadi Dosen Fakutas Ushuluddin UIN Jakarata UIN Syarif Hidayatullah. Ia  pernah mengabdi di  Kantor Wapres JK (2004-2009; 2014-19) antara lain sebagai  Asisten Staf Khusus Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, M.Phil Wapres Bidang  Reformasi Birokrasi., M.A., C.B.E. Sebelumnya, Asisten Staf Khusus bidang keagamaan Kantor Wakil Presiden. Bersamaan dengan masa Uda  Syahrul Ujud, S.H. Wali Kota Padang 1982-1992 sebagai salah seorang Deputi di Kantor Wapres JK. 


In Memoriam Mafri Amir: WartawIn Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi dan Ormasan, Akademisi dan OrmasMafri Amir,  Wartawan, Akademisi dan Ormas

Oleh Shofwan Karim

In Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi dan Ormas (2)


MA bersana Wapres JK dan kolega sejawat


Panji Masyarakat (PM)

MA terpaut usia 6 tahun di bawah saya. Beliau lahir  1 Maret1958 di Koto Sani Solok, pinggir  Danau Singkarak.  Tokoh Suku Caniago-Panyalai ini beristeri Roslaini, suku Koto dari nigari yang sama, Koto Sani. Mereka mempunyai 1 putra dan 2 putri  . Ahmad Zaki (37),  Rifa Wahyuni (34) dan Shofi Adriya (31). 


Menantu mereka Eko Defrianto (34) dan Ari Darmansyah (38). Dari semua anak dan menantu itu , MA dan Roslaini dikaruniai  5 orang cucu. Mereka adalah Fadlan Dhiya Ahmad (14), Rania Nur Izzah (13), Altaf Farell Ahmad,  (6) Athif Refat Arya Shaker (4) dan Shakeela Akifah Lashira Arya (9)


Persahabatan kami berkisar tentang dunia pers kampus, tulis menulis, ormas Islam dan relasi pengabdian kemasyarakatan, kekeluargaan dan kemanusiaan. Almarhum  aktif sebagai wartawan dan redaksi Koran Kampus IAIN yang terbit awal 1979.  

Ia berkarir menjadi wartawan harian Semangat Padang.  Kemudian MA  menjadi koresponden tetap dan wartawan Majalah Islam Panji Masyrakat (PM), Jakarta di masa kepemimpinan Rusydi Hamka setelah Buya Hamka Wafat 1981.  Bagi kami kala itu Mafri menjadi plus karena semasa dengan Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat dan Badri Yatim serta Iqbal Abdul Rauf  Saimima di PM. Majalah Islam ini sangat bergengsi di mata kami khususnya para aktifis dan mahasiswa Islam dan umumnya umat Islam. 


Mengenang MA, rasanya merepleksi kenangan saya kepada tokoh mahasiswa dan aktifis kampus di akhir tahun 1970-an dan 80-an ini. Kami bergelut dalam dunia  tulis menulis, atau gagahnya jurnalistik di Sumbar. Kala itu banyak anak muda sebelum menjadi wartawan sebenarnya, dengan memegang kartu anggota Pers PWI resmi, adalah tokoh kampus. Baru setelah atau sedang menjadi aktifis pers kampus itu mereka menjadi wartawan daerah atau nasional pada masanya. 


Koran Pertama

Menengok jauh ke belakang, koran pertama yang terbit di Indonesia Bataviasche Nouvelles, pada zaman VOC sekitar tahun 1745. Isinya hanya memuat aneka berita tentang kapal dagang VOC, mutasi pejabat, berita pernikahan, kelahiran dan kematian. Pembacanya pun masih terbatas warga Belanda sendiri. Koran ini terbit seminggu sekali sebanyak 4 halaman.   Semua beritanya ditulis tangan. Koran ini kemudian berkembang pesat dan berubah menjadi koran yang berisi kritik terhadap perbudakan di Batavia dan perilaku penguasa VOC ketika itu. 

Tepat pada 20 Juni 1746, koran pertama ini pun menjadi yang pertama kali dibredel seperti diceritakan dalam buku "Toko Merah: Saksi Kejayaan Batavia lama di Tepi Muara Ciliwung" karya Thomas B. Ataladjar. Lihat: Ini Dia Koran Pertama yang Terbit di Indonesia - Citizen6 Liputan6.com (Akses, 27/12/2021).

Bagaimana di Sumbar?. Koran pertama di Sumbar, terbit 1859  bernama Sumatera Courant di Padang. Menurut Khairul Jasmi (KJ), link:  Pers Sumatra Barat: ~ Khairul Jasmi (akses, 27/12/2021). “Meski suratkabar ini lahir sebelum abad ke-20, tetapi dinamika persuratkabaran di wilayah ini  baru terasa pada awal abad itu hingga menjelang kemerdekaan Indonesia”.

“Sejumlah nama penting dalam dunia jurnalisme masa itu antara lain, Mahyuddin Datoek Soetan Maharadja, Rohana Kudus, Sa'adah Alim, Abdullah Ahmad, dan Adinegoro serta Hamka pada generasi berikutnya. Tercatat pula sebuah nama lain yang tak kalah pentingnya, Ahmad Chatib, pemilik suratkabar Djago Djago dan Pemandangan Islam”.

KJ mengatakan, sejak 1859 sampai kemerdekaan, tercatat 81 penerbitan di Minangkabau. Sejak kemerdekaan hingga kini tercatat 41 suratkabar, termasuk 23 yang terbit setelah jatuhnya presiden Soeharto. Daftar panjang suratkabar ini jadi bukti sejarah bahwa Minangkabau telah lama akrab dengan teks dan kata-kata.

KJ menguraikan, “kepiawaian menulis atau mengeluarkan pendapat berpendaran di halaman-halaman surat kabar. Media massa menjadi sarana melancarkan perbincangan dan polemik. Mula-mula tentang kebangkitan Asia, Jepang, lalu format masa depan negara. Tak luput juga tentang bagaimana agama Islam seharusnya dipahami dan dijalankan. Pesertanya kaum tua dan muda. Perdebatan agama inilah yang malah berlangsung tajam”. 

Bagaimana terbitan pers digital sekarang? Menurut Dewan Pers: Ada 43 Ribu Media Online, Hanya 168 yang Profesional (idntimes.com) (Akses, 28/12/2021). Bayangkan berapa berapa jumlah di Sumbar (?). Belum lagi media sosial FB, IG, Link, LinkdIn, WeChat, Telegram dll. Semuanya menjadi media bebas dalam relasi subyek dan obyek, seseorang dengan orang dan kelompok dan grup lain. Dengan medsos, setiap orang menjadi wartawan untuk dirinya sendiri. Bebas, tidak ada redaktur yang filter, seleksi dan edit. Itulah yang sekarang disebut  netizen, citizen journalism atau  jurnal warga. Agaknya boleh  disebut surat kabar tanpa penerbit, tanpa editor, tapa tanggungjawab.  Bagi pers resmi ada UU Pers 1999 dan 2016. Bagi bagi pers online tetap belaku UU Pers . Tetapi blog, web pribadi, jurnal bebas online tampaknya belum menampung hoak dan berita bohong yang tidak terkait dengan kerugian konsumen dalam transaski elektronik. Banyak pakar hukum mengaitkan setiap kebohongan itu dapat di hukum dengan hukum pidana sesuai sifatnya bermutan kesusilaan, perjudian, penghinaan dan atau pencemaran nama baik, pemerasaan dan atau pengancaman, SARA, kekerasan atau menakut-nakuti dsb. Yang semua dapat dikaitkan dengan beberapa Pasal 28 dan ayat di  UU ITE tadi. 

Bagaimana dengan hoax  dalam media sosial dan jurnalistik warga yang tak terkait hal-hal tadi? Tulisan insinuatif, mengada-ada, meme, dan dialog yang tak berdasar yang mencederai akal sehat dan hati-nurani bersih? Itu semua harusnya difilter oleh subyek atau yang bersangkutan sebagai sumber. Bagaimana dengan Hoax dan pembohongan public online? Paling ada klarifikasi dari subyek atau obyek. Oleh karena itu setiap orang haru melek atau safar literasi online dan liteasi digital. Apalagi public figure atau tokoh public. Teruslah waspada. Hal ini sering kami diskusikan dengan MA dan beberapa teman yang intensif mengikuti perkembangan media. 

Pada kajian lebih filosifis, kini disebut era post truth-pasca kebenaran. Orang lebih percaya kepada medsos, apa dan siapa sumbernya tak peduli. Bahkan ada yang lebih poercaya hoax daripada hasil penelitian dan uraian akademisi. Sejak beberapa waktu terakhir Mark Zukenberck menjejal dengan apa yang diebut Metaverse. Facebook telah berubah menjadi Meta. Penggambaran semesta virtual , diakses oleh virtual reality (VR). Raksasa teknologi itu mengejar peluang metaverse secara reolusioner dan amat agresif. Dunia nyata fisik berubah  kepada jejaring dan artificial intelligent (AI), meski belum tuntas konsepnya. 

MA terampil menggunakan kedua media tradisional dan IT ini. Setiap saat MA ke berbagai negara, saya selalu dikirimi bukan hanya foto tetapi video instant. Ada yang dengan caption keterangan gambar lenhkap. Ada pula yang saya saja menafsirkan MA sedang di mana. Apakah seadang di London, Paris, Amsterdam atau sedang di dalam KA dari New York ke Washington DC. Beliau banyak mengadakan perjalan luar negeri, lebih-lebih selama di Kantor Wapres RI dalam dua periode berjarak kamrin itu.  

In Memoriam(3) :  

Mafri Amir,  Wartawan, Akademisi dan Ormas

Oleh Shofwan Karim

In Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi dan Ormas (3)



MA bersama isteri dan  cucu


Kenangan Sebelum Revolusi 4.0-5.0

Pada tahun 1970-an, atau jauh sebelum revolusi 4.0-5.0, Sumbar hanya mengenal surat kabar cetak. Mulai dari Haluan (1949), Singgalang (1968), Angkatan Bersenjata kemudian menjadi Semangat, Aman Makmur, dan Canang. 

Untuk menjadi wartawan kala  itu amat sulit. Hanya orang-orang yang hebat saja yang menjadi  wartawan resmi. Ada budayawan, sastrawan yang merangkap wartawan. Sebutlah A A Navis, Nasrul Sudik, Marthias Duski Pandoe, Basril Djabar, Sukma Jaya, Annas Lubuk, Rusli Marzuki Saria, Pasni Sata, Chairul Harun, Muchlis Sulin, Makmur Hendrik, Wall Paragoan, Rivai Marlaut, Joesfik Helmi, Wisran Hadi, Hamid Djabbar, Anwar Thahar, dan beberapa nama lain.

Generasi sesudah itu yang menari di ingatan saya di Surat Kabar Haluan adalah Ersi Rusli, Yalvema Miaz, Nazar, Masri Marjan, Saiful Bahri, Indra Merdy, Herman L, Mufti Syarfi, Djufri, Jon Edward Rony, Sayfri Amir, dll. 

Di Singgalang ada  Adi Bermasa, Darlis Syofyan,  Fachrul Rasyid,  Luzi Diamanda, Akmal Darwis, Hasril Chaniago, Indra Nara Persada, Eko Yanche, Ramli Karlen, Muhammad Said, Wan Bata, Nasril Zainun, Basril Basyar, Alirman Sori, Wannofry Samry, Edi Utama, Zul Efendi, Hambali, Musriadi Musanif dan sekitar dua ratus tujuh-puluhan alumninya yang pernah dibukukan beberapa tahun lalu. 

Di Koran Semangat,   selain Sukma Jaya di atas adalah Kamardi Rais Dt P Simulie, Effendi Koesnar, Yulizal Yunus, Khairul Jasmi yang kemudian menjadi wartawan Republika dan kini Pemred Singgalang dan Komisaris PTSP, Gatot Santoso, kemudian TPI,  Gusfen Khairul kemudian RCTI, Yutrian Yutri (Cici) kemudian ke Padang Ekpres dan Komisaris PTSP, Erion Saad, Ahmad Zubeir, Hasnah dan lainnya. 

Di ketiga koran tadi,bahkan terakhir ke-empat Padang Ekspres, saya berinteraksi aktif dengan “gerombolan” wartawan senior dan yunor di atas. Di ke-4 koran itu sejak 1974 saya sudah menulis, walaupun resemi mendapat tugas sebagai koresponden Singgalang (1989-1993) dengan surat tanda tangan Pemimpin Umum/Pemred waktu itu adalah Uda Basril Djabar. Saya menulis di Semangat 1976 sd tamatnya koran cetak itu. Begitu Haluan dari 1974 sd sekarang. Padang ekspes sejak lahirnya tahun 1999 sd sekarang, meski tidak terlalu rutin.

Saya sering minta kritikan MA. Karena gaya penulisan saya tidak jelas. Kadang katanya, bergaya akademik, kadang feature, kadang soft news, straight news. MA tidak segan-segan mencoret dan katakan , “ganti”. Begitu pula Zaili Asril dan Fachrul Rasyid. Kedua yang belakangan terpaut lebih kurang 2 atau  3 tahun di atas MA. Saya anggap kami segenerasi. Dan saya banyak belajar dari mereka. Zaili menjadi Wartawan Kompas. Kemudian  membangun Padang Ekspres. Fachrul Rasyid dari Singgalang ke Tempo dan Gatra. MA, dari Semangat ke Panji Masyarakat. Pada masa itu, gensi menjadi wartawan koran Jakarta dianggap wartawan nasional.


Tiga Koran Kampus

Kembali ke MA, kami membersamai Surat Kabar Kampus yang menjadi tren tahun ujung  1970-an. Mulai  dari Suara Kampus IAIN Imam Bonjol Padang, Ganto di IKIP Padang dan Gema Andalas di Unand. Sejalan dengan Resimen Mahasiswa  Bataliyon Mahasakti IAN, Mahawira Unand dan Mahabhakti IKIP. Ketiga Wakil Rektor membidangi mahasiswa waktu itu mengandalkan kegiatan mahasiswa ekstra kampus secara bersama.  

Di Koran Kampus IAIN ada tokoh mahasiswa lebih senor  dari MA, tetapi lebih sabar dan tidak banyak kata. Namanya Yulizal Yunus. Tepatnya sekarang adalah Dr. Drs. H. Yulizal Yunus, B.A., M.Si. Tokoh ini di samping aktif di Koran Semangat kala itu mengajukan gagasan. Kami menyokong gagasan awal Yulizal, didukung  Zaili, dan Fachrul, lalu menjadi  gagasan bersama. 

Di antaranya Adi Bermasa, Herman L, Alirman Hamzah. Generasi berikutnya  Mafri Amir, Akmal Darwis, Wardas Tanjung, Asfar Tanjung, Salmadanis, Sartoni, Syamsuar,  Raihul Amar, Hambali, Nurhayati Zain, Hildawati,  Emma Yohanna, Nuraini Ahmad, Ilza Mayuni dan lainnya.  Gagasan ini yang kemudian melahirkan Shautul Jamiah 1979 itu ditampung oleh Drs. M. Sanusi Latif Rektor dan Wakil Rektor II dan III Drs. Soufyan Ras Burhany. Kemudian Drs. Aguslir Nur dan Drs. Kamaruttaman menjadi pengayom meneruskan petinggi IAIN sebelumnya. 

 Kala itu kami mencetak SK  di Sumatera offset jalan Hiligoo. Pemiliknya Bapak Kamener. Belum dengan percetakan modern seperti tahun 1980-an ke atas. Masih dengan cetakan timah dituang. Dengan cetakan moderen barulah berbentuk  majalah di Percetakan Harian Singgalang oleh adik-adik penerus Suara Kampus (SK) itu. Dan sekarang menjadi SK online 

Khusus kerjasama ketiga Koran Kampus, terasa amat dinamis. Mereka  berganti-ganti melakukan pelatihan jurnalistik. Pesertanya terdiri dari aktifis mahaiswa tiga kampus tersebut. Hampir sekali 3 bulan di IAIN, IKIP dan Unand diadakan pelatihan Jurnalistik tingkat dasar, menengah dan lanjutan. Instrukturnya kami minta dari Koran Haluan, Singgalang dan Semangat serta  koreponden Jakarta seperti Kompas, Tempo dan Merdeka. Di antaranya para wartawan senior yang telah disebut di atas tadi.

Kerja sama koran kampus di tiga Perguruan Tinggi (PT)  pada 50-40 tahun lalu itu dimulai dari suasana sebelumnya.  Adanya dinamika dunia intelektual, kecendekiawanan dan kebudayaan, kesusastreaan, kesenimanan  dan kewartawanan di zaman Gubernur Harun Zain. Berlanjut masa Azwar Anas dan Hasan Durin. 

Kampus masa itu menjadi soko guru pemerintah dan masyarakat yang amat kondusif. Mungkin karena pemerintah  masih belum mempunyai cukup SDM dan kelembagaan, maka PT dianggap sebagai gudang pemikiran dan konsep. Oleh karena itu kerja sama menjalar ke bidang lain. Sementara PT  waktu itu belum  mandiri . 

Oleh karena itu kerjasama lintas PTN dan PTS dengan dukungan Pemprov, Pemko dan Pemkab, menjadi keniscayaan. Tentu saja pendanaan pun belum sebesar seperti  sekarang.  Kerjasama antara kampus dengan pemerintah dalam pengabdian masyarakat, riset dan penelitian, kegiatan institusi, minat dan bakat mahasiswa seperti Dewan Mahasiswa, Senat Mahasiswa,  Resimen Mahasiswa, Olahraga Mahassiswa dan Seni Mahasiswa bergebyar-uyar. Klub teater, drama, paduan suara dan pertandingan olah raga sangat meriah dan dinamis.

Bahkan di bawah kepemimpinan gubernur-gubernur tadi, mahasiswa seperti dianak emaskan. Sekali 2 bulan ada kumpul-kumpul atau kalau sekarang gathering di gubernuran. Kita diminta oleh para gubernur yang berbeda masa itu memberikan masukan dan perkembangan Sumbar dalam berbagai hal. 

Maka wartawan-wartawan yang belum jadi dari kampus waktu itu amat bergairah berdiskusi, bedah buku, berwacana politik. Itu semua  menjadi menu utama setiap mahasiswa “kongkow-kongkow”. 

Di suasana dan aura dinamika intelektual demikianlah, para aktifis kampus berada. Dari IAIN, sahabat MA sangat banyak. Mereka di antaranya  Adi Bermasa (nama asli Aditiawarnan Bermawi), Herman L, Alirman Hamzah, Akmal Darwis, Wardas Tanjung, Asfar Tanjung, Salmadanis, Sartoni, Raihul Amar, Hambali,  Sutan Zaili Asril, Yulizal Yunus, Nurhayati Zain, Hildawati,  Emma Yohanna, Nuraini Ahmad, Ilza Mayuni dan lainnya.  

Tentu saja dalam kurun dan generasi berbeda  setelah itu ada yang meneruskan. Di antaranya seperti Abdullah Khusairi, Andi al-Faruqi, Abdul Salam, Bakhtiar dan beberapa lagi. 

Dari Unand yang segar dalam ingatan saya adalah Hari Susanto, Saiful Bahri, Ivan Aldilla, Khairul Ananda,  Budi Putra, Yongki Slmeno, Rusli Sulaiman, Atviarni dan seterusnya. Sementara dari IKIP dengan mentornya Makmur Hendrik,  Achyar Sikumbang, Haris Efendi Thahar, John Herry , Wendy HS, dan Muhardi. 

In Memoriam(4) :  

Mafri Amir,  Wartawan, Akademisi dan Ormas

Oleh Shofwan Karim

In Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi dan Ormas (4)




Shofwan Karim bersama Dr. H. Mafri Amir, M.A. Pada Kongres Umat Islam 

Indoensia (KUII) Pangkal Pinang, Bangka Belitung, 28 Februari 2020. 


MA di Dunia Akademik 

Memasuki akhir 80-90-an, MA dan tentu pula yang lain sudah boleh disebut menjadi tokoh di bidangnya masing-masing. Ada yang tetap menggeluti dunia kewartwanan, ada yang menggandengnya dengan profesi lain. Ada yang parallel dengan dunia kepenulisan seperti Hasril Chaniago focus ke penulisan buku biografi (sampai sekarah lebih 30 buku sudah ditulisnya). Khairul Jasmi menulis biografi dan novel. Wannofry Samry dosen di Unand, Haris Efendi Tahar dan Yalvema Miaz, keduanya menjadi  Guru Besar di UNP. Salmadanis, Guru Besar IAN IB Padang.

Bila di dunia kewartawan ada kompetensi  wartawan muda, madya dan utama maka di dunia akademik dosen, ada kategori Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala dan Profesor.  Untuk menjadi Lektor Kepala dan Profesor (Guru Besar) pendidikannya mesti ditambah ke Pascasarjana S-2 dan S.3. 

Sejak beberapa tahun terakhir untuk Profesor tidak mungkin lagi tanpa S.3/Doktor. Bahkan ada peraturan baru bahwa Doktor yang sudah Lektor Kepala berhak disebut Associate Profesor. Kini sudah sering digunakan beberapa pihak. Mereka yang sudah lama Doktor dan Lektor Kepala otomatis menjadi Associate Profesor tersebur. Asal mereka mempunyai Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) atau Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) yang masih berlaku, alias mereka masih bertugas sebagai dosen PTN atau PTS. 

MA masuk S.2, Magister Artium (M.A.) di Pascasarjana IAIN IB Padang tahun 1993. Kemudian tahun 1999 ia ke S.3 Pascasarjana UIN Jakarta dan selesai tahun 2003. Buku yang pernah ditulisnya adalah Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam (Jkarta: Logos, 1999). 

Belakangan, sepengamatan saya karena sibuk di dunia akademik, dunia jurnslistik mulai berkurang digelutinya. Setelah dosen di IAIN Padang dan pindah kerja penuh waktunya sebagai dosen di UIN Jakarta, MA . Tetap nyambi menjadi muballig. Saya sering salat di Masjid Perwakilan Pemda Sumbar Jl Matraman Raya 19 sebelum menjadi Hotel Rankiang sekarang ini. MA menjadi khatib bulanan tetap di situ. 

Kantor Wapres JK

Belakangan setelah Wapres JK terpilih bersama Presiden SBY 2004-2009, MA juga menjadi Asisten Staf Khusus seperti disebut di atas tadi. Masa ini saya memperkaya relasi dengan MA. Terutama bila hendak berrsilaturrahim dengan Uda Suyahrul Ujud dan Prof Azyumardi Azra. Dan sekali-sekali ingin bertemu dengan Wapres JK. 

Saya melanjutkan relasi ketika 2000 sampai pra terpilih menjadi Wapres 2004. Sewaktu Pak JK menjadi Menko Kesra sebelumnya , saya melalui Uda Syahrul menemui Bp JK untuk keperluan yang berhubungan dengan Muhammadiyah. Waktu itu saya Ketua PW Muhammadiyah Sumbar 2000-2005. Begitu pula ketika saya bertugas sebagai Komisaris PT Semen Padang 2005-2015.

 Pertama yang saya call adalah MA. Minta akses ke Bang Syahrul yang nantinya ke Pak JK. Termasuk ketika memperjuangkan IAIN IB menjadi UIN yang sudah intensif ketika Rektor Prof Makmur Syarif dan belakangan tuntas zaman Rektor Prof Ek Putra Warman. Selain itu, saya juga minta informasi kalau sudah dekat hari raya Idul Fitri. Biasanya keluarga Pak JK menyediakan Paket Lebaran untuk ormas Islam, termasuk Muhmmadiyah. Melalui MA diminta kontak Uda Syahrul. Saya sangat menghormati mereka dan tidak mau langsung, sebelum berbisik ke MA langsung atau by call. Setiap tahun Muhammadiyah Sumbar selalu masuk rencana mereka, kecuali kami terlambat lapor. 

In Memoriam(5) :  

Mafri Amir,  Wartawan, Akademisi dan Ormas

Oleh Shofwan Karim

In Memoriam Mafri Amir: Wartawan, Akademisi dan Ormas (5)


MA pada resepsi perkawinan putri Herman L 


MA di Dunia Ormas Islam

Selama mahasiswa, MA setahu saya adalah anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Termasuk Salmadanis, (Kemudian Guru Besar FD IAIN IB). Akan tetapi setelah beberapa tahun tamat kuliah S.1 atau dokrandus, belakangan MA, aktif di Tarbiyah Islamiyah. Tarbiyah Islamiyah  awalnya adalah  Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah lahir tahun 1928). Perti  oleh pendirinya Syekh Sulaiman al-Rasuli (1871-1970) atau lenih dikenal sebagai Inyiak Canduang,   hanya organisasi Ormas Islam berbasis pendidikan. Di awal kemerdekaan semuja kekuatan poltik Islam berada di Partai Politik  Masyumi. Belakangan Syarikat Islam, Nahdhatul Ulama serta Perti kelur dari Masyumi dan pada Pemilu 1955  mempunyai bendera sendiri sebagai Partai Politik.

Perkembangan Islam dan Politik di Indonesia naik dan turun. Partai Masyumi membubawrkan diri tahun 1959 dan resmi dibubarkan Presiden Soekarno tahun 1960. Partai Islam Modern yang kokoh itu akhirnya bubar. Ini antara lain  karena bentrok dengan Orde Lama, Soekarno dengan Poros Nasakomnya (Nasionalis, Agama-Komunis) .


Setelah Orla runtuh di bawah Soekarno dan muncul Orba di bawah Soeharto, Partai Masyumi ingin bangkit. Tetapi maksud itu tak terwujud karena berbagai hal. Kecewa maksud tak sampai maka sebagian mereka melahirkan Parmusi (Partai Muslimin Indonesia).    Pada 1971 bersama  partai Islam lain, seperti Parmusi tadi, Perti,  Syarikat Islam dan Nahdhatul Ulama,  ikut Pemilu lagi secara mandiri. Akan tetapi ketika terjadi pernyederhanan partai yang disebut Pusi 9 Parpol dan 1 Golkar, menghadapi Pemilu 1977, sebagian warga Perti masuk Golkar. Mereka menyebut dirinya Tarbiyah Islamiyah. 

Golkar mempunyai organisasi sayap yang disebut melahirkan Golkar, dilahirkan Golkar dan Penerus Golkar. Yang pertama tadi sebetulnya ada 14 organisasi yang bergabung dalam sekretriat bersama Golkar pada tahun 1964. Belakangan mereka dikonsolidasikan ke dalam Tri Karya yaitu MKGR, Kosgoro dan Soksi. 

Sementara yang dilahirkan Golkar adalah organsiasi baru atau diperbaharui seperti  buruh, tani, nelayan dan ulama, wanita dan pemuda. Maka lahirlah FBSI, HKTI, HNSI, GUPPI, Tarbiyah Islamiyah, Satkar Ulama, Wanita al-Hidayah, AMPI dan KNPI. 

Rekayasa sosial politik masa itu hanya mengenal 2 Parpol dan 1 Golkar. Akan tetapi setiap Pemilu yang menang adalah Golkar yang sebenarnya masa itu adalah kumpulan terbesar para tokoh lintas sector, fungsi, ideologi yang waktu itu masih boleh menggunakan yang lain di samping Pancasila. 

Tahun 1973 terjadi penyederhanan Parpol. Itu yang disebut sebagai pusi. Pada pusi ini Perti, NU, SI dan Parmusi menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Murba, PNI, IPKI, Parkindo, dan Partai Katolik menjadi PDI. Jadilah pada Pemilu 1977 ada 2 Parpol (PPP dan PDI) dan satu Golkar  sebagai hanya 3  peserta. 

Dengan habitat sosio-kultural-politik begitu, MA memasuki Tarbiyah Islamiyah. Almarhum tetap menjalankan tyugas akademik, kewartwaan dan aktifg di Ormas Tarbuyah Islamiyah. Apakah MA mempunyai ambisi politik untuk duduk di kursi Gokar pada DPRD Kota, Kabupaten atau Provinsi seperti yang lain di masa itu, wa Allahu a’lam bi al-shawab. 

MA sempat menjadi Ketua Permuda Tarbiyah Islamiyah  dan menjadi Pengurus inti di Tarbiyah Islamiyah Provinsi Sumbar. Sebelumnya,  MA adalah yunior saya di IMM.  Di masa belakangan walaupun yang satu di Tarbiyah dan saya di  Muhammadiyah, terasa persahabatan kami tidak kupak sedikit pun.  

Termasuk hal-hal tentang  perkembangan  masing-masing organisasi,  kakobeh dan dinamika tokoh, kami sering berbagi untuk kebaikan . Bagi kami persyarikatan, organisasi, jama’ah dan jam ‘iyah adalah kamar-kamar keluarga dalam satu rumah “gadang” ummat dan masyarakat Islam. Suasana batin yang berbeda  saya dapatkan dari tokoh yang lain. Inilah kepingan kenangan abadi persahabatan  tak terlupakan yang amat mengesankan bersama MA. ***

 








. 



 













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengabdian Warga Muhammadiyah: Rekonstruksi Kiprah H. Amran dalam Pendidikan

Menjawab Kerisauan Bundo Mega : Gamawan Fauzi dan Hasril Chaniago