Kenangan Bersama Muallaf: Dari Relawan Hingga Memeluk Islam

www.padangekspres.co.id
Senin, 30 Oktober 2006
Oleh Shofwan Karim

Chris dan Tara adalah dua sahabat kita yang muallaf. Bagaikan teras utama sebuah rumah, bagi penulis, kedua muallaf ini menjadi hiasan batin amat berharga. Chris, baru 4 bulan memeluk Islam setelah 2 tahun lalu bekerja di sebuah LSM (NGO) di Jambi. Kini Chris adalah petugas volunteer (relawan) sebagai pengajar bahasa Inggris native speaker di Jurusan Sastra Inggris Unand. Tara, sudah hampir 6 tahun memeluk Islam, juga pengajar sebagai native speaker di sebuah kursus bahasa Inggris di kota ini. Chris berasal dari kota kecil dekat Seattle, negara bagian Washington, belahan barat Amerika Serikat. Sementara Tara berasal dari Wales Selatan, Inggris. Chris masih sendiri sementara Tara sudah menikah dengan Saleh, pria anak mantan ketua Ranting Muhammadiyah, Binjai, Medan. Mereka dikaruniai seorang putra yang mereka beri nama Malik bin Saleh. Kini Malik berusia 5 tahun dan belajar di sebuah taman kanak-kanak internasional di Padang.
Penulis kenal Chris melalui ibu Ramadhani, Dosen Sastra Inggris Unand pada malam berbuka bersama Gubernur dan Wagub dengan kalangan pendidikan Sumbar pertengahan Ramadhan lalu. Tara, penulis kenal sejak 3 tahun lalu, ketika menunggu Adam, muridnya yang putra penulis di kursusnya. Karena sudah lama kenal Tara, bahkan penulis agak rutin ber sms dan berteleponan dengan kedua orang tuanya di negeri Ratu Elizabeth itu.
Kami akrab dengan keluarga Tara karena pada akhir Juli 2004 dalam kunjungan sosial dan budaya atas sponsor CDM KBRI London waktu itu, sempat mampir di rumah mereka di desa Machen, South Wales. Sementara, dengan Chris, memang baru dalam waktu amat singkat ini penulis kenal. Walaupun demikian, penulis agak tahu juga lingkungan sosial kampungnya karena Mei dan Juni 2005 lalu penulis sempat di ujung program berada di Seattle dalam suatu kunjungan ke 10 negara bagian dalam program internasional tentang demokrasi akar rumput atas sponsor Dirjen Pendidikan dan Sosial Budaya, Deplu AS .
Chris, ingin sekali belajar baca Qur’an. Saya ingin belajar Iqra’, katanya beberapa waktu lalu. Penulis rundingkan dengan guru Adam yang belajar Qur’an sejak 2 tahun lalu yaitu ustadz Abizar, di STPIQ. Penulis laporkan pula dengan Dr. Syar’I bin Sumin, Direktur STIQ tadi. Kini, Chris 3 kali sepekan belajar Iqra’. Sementara kepada Tara, sudah penulis sampaikan 2 tahun lalu, hadiah Al-Qur’an dan terjemahannya dalam bahasa Innggris karya Yusuf Ali, dari Alias bin Hasan, mahasiswa penulis di Kolej Islam Muhammadiyah Singapura.
Di mess Unand Jati, Padang, Chris tinggal sendirian. Sekali, penulis numpang shalat zuhur. Betapa ta’jub dan gembiranya hati ini. Chris menjadikan kamar kerja, belajar, pustaka dan meja tulis serta laptopnya, merangkap ruangan ibadahnya. Di situ terhampar permadani sajadah. Di samping sajadah itu, terlipat rapi pakaian shalat: kopiah putih, baju muslim dan sarung serta terlingkar di atasnya untaian tasbih.
Sementara, Tara, nampaknya amat puas dengan putranya Malik. Ketika berbuka dengan keluarga penulis, di suatu tempat kota ini, Malik berkata: “ cepat pulang, mau shalat di masjid. Nanti marah Tuhan”. “Sudah puasa?” Malik jawab, “ baru sekali sekali. Nanti kalau usia saya sudah 10 tahun, saya akan terus puasa lagi”. Ucapan Malik, bagaikan menghembus sejuk dada penulis. Bocah ini seakan mengingatkan kita anjuran Rasulullah, “suruhlah anakmu shalat (ibadah wajib) bila sudah berusia 7 tahun dan kerasilah (idhrab) bila ia telah berusia 10 tahun.”
Status Chris dan Tara yang muallaf, mengingatkan penulis kepada QS Attaubah,: 60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Menurut konstatasi ayat ini, Chris dan Tara termasuk komponen ke-4 sebagai yang berhak menerima zakat. Tetapi mereka tidak pernah berfikir soal haknya itu. Sementara kita juga seakan melupakan para muallaf ini. Penulis yakin, Chris dan Tara tidak berharap dan tidak akan pernah berharap. Tetapi muallaf-muallaf yang lain yang belum cukup ada datanya di dalam administrasi Islam negeri kita, mungkin banyak yang memerlukan bantuan zakat itu. Janganlah kita hanya terpekik resah bila ada muslim yang murtad. Sementara mereka yang masuk Islam, kurang kita perhatikan.
Bukan Chris dan Tara tidak perlu bantuan, tetapi yang paling penting bagi mereka adalah kehangatan silaturrahim, muallafat qulubuhum (yang dibujuk hati mereka). Mereka adalah keluarga baru dalam keluarga besar kaum muslimin. Ketika penulis ajak keduanya pulang kampung untuk mnerayakan Idul Fithri kali ini, rupanya mereka sudah punya agenda. Chris, berhari raya di rumah orang tua angkatnya di Jambi. Sementara, Tara, kedatangan keluarga Saleh yang bekerja di LSM (NGO) di Aceh dan berhariraya di Padang, Senin kemarin. Selamat Idul Fithri, Chris dan Tara. Semoga Allah akan memantapkan jiwa anda berdua dalam Islam yang rahmatan lil alamin. ***

Comments

Popular posts from this blog

“Mengejar Moncong Putih, Matahari dan Ka’bah”, Catatan Harian 15 Agustus 2016.

Mahasiswa Al-Azhar University, Kairo, Mesir dari Minangkabau

Pluralitas Bermasyarakat Beradab dan Bermartabat