Pembangunan Kepariwisataan Sumatera Barat: Pengembangan Potensi Wisata Budaya

Pembangunan Kepariwisataan Sumatera Barat: Pengembangan Potensi Wisata Budaya[1]
Oleh Shofwan Karim Elha[2]
I. Pendahuluan
Berkembangnya strategi multi-track diplomacy atau total diplomacy telah memberikan pengaruh signifikan bagi hubungan antarbangsa. Jika dulu fungsi fungsi diplomasi dan diplomasi itu sendiri hanya dapat dilakukan oleh Negara, maka saat ini diplomasi dapat dilakukan oleh publik sebagai non state actor seperti Multi National Coorporation/Trans National Coorporation (MNC/TNC), Non Governmental Organization (NGO), Pemerintah Daerah, kalangan bisnis, masyarakat dan perorangan atau individu..
Tidak terkecuali dengan apa yang terjadi di Indonesia. Aktor-aktor non-negara juga bermunculan sebagai respon penyikapan fenomena baru hubungan internasional. Salah satu aktor non-negara yang sangat aktif ialah Pemerintah Daerah. Terlepas dari perubahan paradigma pasca Perang Dingin dalam hubungan internasional, reformasi domestik yang tercermin dalam otonomi daerah memainkan peranan yang sangat penting dalam membuka peluang kerjasama antara Pemerintah Daerah, tentu saja, dalam konteks hubungan internasional. UU Otonomi Daerah yang mengatur pasal Hubungan Luar Negeri secara eksplisit menjelaskan kewenangan apa saja yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam membuka hubungan luar negeri. Jika kita interpretasikan UU tersebut maka Pemerintah Republik Indonesia sebenarnya memberikan lahan yang cukup luas kepada Pemerintah Daerah untuk melakukan upaya multi-track diplomacy.
Salah satu item penting yang terdapat dalam multitrack diplomacy ialah Diplomasi Kebudayaan. Diplomasi kebudayaan sangat populer di awal tahun 1990-an yang dirintis dan dikembangkan sebelumnya oleh Menlu RI Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja. Melalui diplomasi kebudayaan ingin ditanamkan, dikembangkan dan dimantapkan citra Indonesia sebagai negara bangsa yang berkepribadian luhur dan berkebudayaan tinggi. Studi tim Universitas Udayana mengungkapkan diplomasi kebudayaan pada waktu itu berdampak sangat signifikan terhadap peningkatan pariwisata, industri, perdagangan, investasi, pendidikan, dan pelaksanaan politik luar negeri.[3]
Revitalisasi diplomasi kebudayaan dapat diakselerasi kembali sebagai program nasional yang ditunjang oleh beberapa daerah dalam tumpuan konsep Bhineka Tunggal Ika Indonesia. Diplomasi kebudayaan mampu dilaksanakan secara sinergis antara Departemen Budpar, Deplu, Departemen Perdagangan dan Departemen lainnya dengan melibatkan kantor kedutaan besar serta didukung oleh propinsi-propinsi melalui kegiatan pameran kebudayaan, misi kesenian, pertukaran pemuda, mahasiswa, dan pelajar serta kalangan profesional antar-negara, workshop dan dialog budaya, pemutaran film dan publikasi. Sasaran produktif tentu saja negara-negara persinggahan wisata seperti negara tetangga Malaysia dan Singapura serta negara-negara pemasok wisatawan utama seperti AS, Kanada, Jepang, Cina, Taiwan Inggris, Jerman, Belanda, Italia, Prancis, Australia, dan lain-lain. Lokasi pameran dan peristiwa kebudayaan perlu dipilih pada sentra-sentra budaya yang strategis seperti museum, kampus, festival seni, dan pameran-pameran yang bergengsi secara internasional.[4]

Di dalam ikut serta memberikan kontribusi pemikiran untuk masa depan hubungan Indonesia-Malaysia pada Annual Lectrue dan Seminar Bung Hattta tahun ini, maka tulisan berikut memaparkan secara deskriptif pemahaman umum tentang pariwisata dan mencoba mengemukakan secara khusus potensi pengembangan wisata budaya Sumatera Barat serta (re)packaging kepariwisataan daerah ini serta bagaimana membangun recognisi masyarakat sehingga kepariwisataan Sumbar yang berbasis wisata budaya lebih berarti dan lebih produktif di masa depan . Untuk lebih memberikan kesan, akan ditayangkan pula bebera cuplikan kepustakaan digital yang diberikan atas budi baik Kantor Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Sumbar.


II. Memahami Pariwisata

Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki naluri untuk berhubungan dengan orang lain. Dalam masalah kepariwisataan, perjalanan wisata dari satu daerah ke daerah lain merupakan gejala sosial manusia yang selalu ingin melakukan hubungan dengan orang lain. Pariwisata sendiri telah muncul seiring dengan peradaban manusia. Bangsa Sumeria telah melakukan perjalanan dengan motivasi sederhana yaitu survival yang kemudian berkembang menjadi ingin berdagang. Sedangkan Bangsa Romawi melakukan perjalanan untuk plaisir (bersenang-senang).
Dalam peradaban modern, pesatnya arus informasi, perkembangan teknologi komunikasi, ilmu pengetahuan, dan seni, menyebabkan orang tergerak untuk melakukan perjalanan wisata ke luar daerah bahkan luar batas wilayah negara. Derasnya arus informasi dan promosi negara tujuan wisata, semakin meningkatkan keinginan manusia untuk saling berkunjung ke negara negara tujuan wisata. Memperbincangkan negara dalam arti luas dan daerah provinsi dalan arti sempit sebagai tujuan wisata, dalam konteks modern, hal ini tentu saja bisa dikonstruksi dengan upaya serius dari pihak yang terkait agar bisa menanamkan imej atau persepsi kepada alam pikiran manusia sebagai obyek dari konstruksi tersebut. Salah satu caranya ialah menggiatkan informasi dan advertising secara berulang-ulang. Karena bagaimanapun juga “repitisi menghasilkan reputasi”. Di dalam pengalaman penulis mengunjungi berbagai negara serta menerima kunjungan tamu mancanegara baik secara rombongan maupun perorangan, ternyata wisata budaya merupakan satu hal yang amat mendalam kesannya. Penampilan kesenian atau culture show, pameran budaya dan kunjungan ke pusat-pusat sejarah, budaya dan agama melebihi kesannya di bandingkan hanya melihat dan mengunjungi keindahan alam dan bepergian ke pusat belanja atau sektor rekreasional lainnya. Meskipun demikian, dunia-wisata tidak bisa dipilah-pilah secara ketat hanya dengan satu sektor semata.
Kosa kata pariwisata berasal dari kata “pari” yang berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar dan “wisata” artinya bepergian atau perjalanan. Jadi, pariwisata berarti suatu kegiatan perjalanan atau bepergian yang dilakukan dari satu tempat ke tempat lain, dengan tujuan bermacam-macam. Pada sisi lain Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Istilah pariwisata dicetuskan oleh Presiden RI, Ir. Soekarno tangal 14 Juni 1958 dalam penutupan Musyawarah Nasional Tourism II di Gedung Pemuda Surabaya. Presiden menanyakan kata apa yang tepat untuk pengganti tourisme kepada Menteri P & K Dr. Pryono. Menteri menjawab, untuk antardaerah/kota dipakai kata “darmawisata” dan untuk antarbenua dipakai kata “pariwisata”. [5]
Di dalam makna yang umum kepariwisataan (tourism) terambil dati kata tour atau perjalanan. Menurut kamus Encarta, tour·ism (n) 1. the visiting of places away from home for pleasure 2. the business of organizing travel and services for people traveling for pleasure. Tourisme berarti (1) kunjungan ke suatu atau beberapa tempat yang jauh dari rumah untuk kesenangan: (2) urusan yang berhubungan dengan penyelenggaraan dan pelayanan bagi orangan yang melakukan perjalanan untuk kesenangan.
Secara garis besar tujuan perjalanan pariwisata itu dibedakan antara :
(1) Business tourism, yaitu perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang dengan tujuan dinas, perdagangan, atau yang berhubungan dengan pekerjaan.
(2) Vacational tourism, perjalanan untuk berlibur atau cuti.
(3) Educatitonal tourism dan Convention tourism, perjalanan untuk kepentingan pendidikan, studi , penelitian dan kongres di dalam maupun di luar negeri, seminar, konprensi, simposium , musyawarah, konvensi, pertemuan para-pakar dan lain-lain.

Sementara itu dilihat dari segi obyeknya, pariwisata itu dapat ditinjau dari beberapa jenis:
(1) Cultural tourism, wisata kebudayaan, seni, dan pertunjukan tradisional serta penampilan dan atraksi budaya pada umumnya, kunjungan ke lokasi peninggalan masa lalu, pusat kepurbakalaan dst.
(2) Recuperational tourism, jenis kepariwisataan penyegaran dan kesehatan, kepegunungan, ke daerah tertentu dan lain-lain.
(3) Commercial tourism, yaitu kepariwisataan yang dikaitkan dengan kepentingan usaha daganag, kontak produsen dan konsumen, kontak dagang saling mengtuntungkan dan sebagainya.
(4) Sport tourism, wisata untuk menyaksikan event olahraga nasional dan internasional seperti PON, Olympiade, formula, World Cup Champion dll.
(5) Poltical tourism, perjalanan menyaksikan peristiwa-peristiwa tertentu di berbagai negara seperti Pemilu, pelantikan Presiden dan Kepala Negara, Raja, kegiatan kenegaraan, kunjungan Kepala Negara dan Pemerintahan dan legislator atau senator suatu negara ke negara lain dst.
(6) Advantural tourism, yaitu perjalanan petualangan, hiking, jelajah laut, hutan, gunung, arung-jeram dan lain-lain.
(7) Sosial tourism, kunjungan wisata sambil memberikan bantuan pangan, pakaian dan obat-obatan ke suatu tempat atau masyarakat .
(8) Religious tourism, yaitu perjalanan wisata bernuansa keagamaan , termasuk umrah, haji dan seterusnya. [6]

Seluruh aktivitas dan ketegori wisata pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari tiga hal: what to see, what to do and what to buy. Bermula sekaligus berakhir serta berdampak langsung kepada fenomena dan pertumbuhan ekonomi serta penyebaran pendapatan masyawakat dan rakyat. Fenomena ekonomi dalam pariwisata mempunyai aspek luas. Secara makro, kepariwisataan merupakan alat untuk mencapai target-target ekonomi. Ada dua aspek dampak kepariwisataan terhadap ekonomi, yakni keuntungan dalam negeri dan kepariwisataan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan umum ekonomi.[7] Keuntungan dalam negeri dari kepariwisataan antara lain;[8]
Terbukanya lapangan pekerjaan baru; Pasaran baru untuk hasil produksi tertentu;Trickle down effect;Investasi asing; Redistribusi pendapatan nasional ; Sedangkan kepariwisataan sebagai alat untuk mencapai tujuan umum ekonomi antara lain;[9] Suatu alat pembangunan daerah ; Kepariwisataan mengurangi pengangguran ;Membangun kepariwisataan sebagai komoditi invisible export; Kepariwisataan dan perbendaharaan negara; Kepariwisataan dan penanaman modal .
Walaupun penulis belum dapat mengemukakan angka yang pasti, berapa persentase share pariwisata sebagai salah satu sub-sektor eknomi dari dan untuk Produk Domestik Bruto (PDB) Sumbar tahun ke tahun, namun dari data berikut dapat dibayangkan secara imajiner. Kapal terbang yang mendarat dan terbang di BIM rata-rata perhari sekarang adalah 17 flight, ke dan dari Jakarta, Bandung, Medan, Pekanbaru dan Batam. Di antaranya juga yang langsung ke luar negeri, Kualalumpur, Malaysia dan Singapura. Pada hari-hari libur semua penerbangan terisi penuh dan di luar itu okupasi seat-nya sekitar 50 sampai 80%. Wisatawan asing yang berkunjung ke Sumbar tahun 2005 adalah 84.646 wisatawan sementara wisatawan domistik 4.272.382. Bila disandarkan kepada length of stay mereka berdasarkan lama menginap di hotel maka untuk wisatawan asing rata-rata dua hari serta untuk domistik rata-rata 3 hari.[10] Apabila diperkirakan seperti angka nasional, setiap wisatawan asing menghabiskan uang seribu dollar (1000 USD) dan separuh atau sepertiga dari itu (300-500) dollar US ) untuk wisatawan domistik, maka total uang yang beredar di Sumbar dari sektor ini tentulah cukup besar (lebih kurang 2 milyar USD).


III. Potensi Pengembangan Wisata Budaya Sumatera Barat

Keindahan alam Sumbar sebagai resources dunia-wisata merupakan sesuatu yang given sebagai karunia Allah swt. Sumbar memiliki kawasan dan kondisi geografis yang sangat indah. Penggunaan term given disini artinya, tempat atau interest-point tersebut tidak terlalu banyak membutuhkan intervensi manusia untuk menjadikannya sebagai tempat tujuan wisata. Yang terpenting dalam hal ini adalah transportasi, kebersihan objek alamnya, fasilitas umum, sanitasi dan penataan tata ruang serta ketersediaan food and lodging. Contohnya: Ngarai Sianok (sebelum maupun sesudah Gempa Bumi 6 Maret 2007) di Bukittinggi, Gua dan Lembah Arau di Payakumbuh dan Kab. 50 Koto, Lembah Anai, Danau Maninjau, Puncak Lawang, Gunung Merapi, Singalang dan Tandikat, Danau Singkarak, Danau Diatas, Danau Dibawah, Pantai Bungus, Replika Batu Malinkundang di Pantai Aie Manih, Bukit Taman Siti Nurbaya, jembatan akar berayun, resort wisata Mande di Pesisir Selatan, Wisata Ombak untuk surfing di Mentawai, Taman Hutan Raya Bung Hatta, Rimba Panti dan lain sebagainya.
Selain memiliki alam yang indah, Provinsi Sumatera Barat, memiliki tempat-tempat bersejarah, pusat-pusat budaya bernilai tinggi dan unik. Di antara citus-situs Cagar Budaya itu adalah seabagai berikut. Di Limo Kaum ada Masjid yang berusia hampir 300 tahun, begitu pula di Batipuh ada Masjid berarsitektur tradisi masa lau dan juga di Muara Labuah, Solok Selatan ada Masjid yang berdiri amat lama. Batu Batikam, Batu Basurek dan Tempat Duduk Raja, masih di Limo Kaum. Lobang Jepang, Jama Gadang dan Meriam Port de Kock di Benteng, Bukittinggi. Gedung-gedung peninggalan Belanda, musium kereta api, gudang ransum dan obyek-obyek wisata Tambang di Sawahlunto. Kawasan bangunan tua Pasa Mudiak dan wilayah Muaro, Padang. Di Mahat, 50 Koto ada beberapa Menhir. Candi Roco di Sungai Langsat, Sawahlunto Sijunjung. Begitu pula di Pariangan Tanah Datar ada makam raja yang amat unik karena panjangnya berubaha-ubah setiap kali diukur . Sementara itu ada beberapa sumber air panas di Pariangan dan di Cupak Solok. Tentu saja tak kurang pula maknanya lebih dari seribu item benda-benda kuno dan bersejarah peninggalan masa lalu yang tersimpan di Istana Pewaris Kerajaan Pagaruyung Alam Minangkabau. Benda-benda lain atau pun serupa ada juga di beberapa tempat seperti di Musium Aditiyawaraman di Padang, Penyimpanan Benda Purbakala di Batusangkar, di Rumah Gadang Taman Puti Bungsu Bukittinggi serta Kediaman Mandeh Rubiah di Lunang, Pesisir Selatan dan di Rumah Gadang Alam Surambi Sungai Pagu Solok Selatan serta beberapa rumah di Sijunjung dan Dharmasraya.[11]
. Untuk konteks Sumatera Barat, wisata budaya (cultural tourism) merupakan salah satu unggulan. Khusus untuk negara tetangga seperti Malaysia, di mana keturunan suku Minangkabau mayoritas di Negeri Sembilan, maka wisata budaya, termasuk wisata bernuansa sejarah, dakwah dan agama, cukup mereka kenal. Hubungan Minangkabau dengan Negeri Sembilan merupakan entry-point yang sampai sekarang tetap terpelihara. Hubungan daerah, tali darah dan persukuan sudah sejak dulu di mulai oleh Raja Melewar pada akhir abad ke-17 dan berlanjut awal abad ke 18 sampai sekarang tetap berlangsung dan menjadi buah bibir serta buah tutur warga masyarakat kedua negeri Minangkabau dan Negeri Sembilan ini.
Kelahiran dan kiprah tokoh-tokoh Minangkabau masa lalu amat dikagumi warga masyarakat negara tetangga ini. Buya HAMKA, H. Agus Salaim, Mohammad Hatta, Muhammad Natsir, Syekh Taher Jalaludin, di antara tokoh-tokoh pemimpin, dakwah dan pembaharuan pemikiran Islam Minangkabau serta buku-buku karya tulis mereka amat dikagumi oleh penduduk Malaysia. Sampai sekarang para wisatawan dari negeri tetangga ini tidak merasa cukup hanya untuk melihat keindahan alam Sumatera Barat saja, tetapi lebih-lebih lagi ingin ke Maninjau untuk melihat leluhur dan rumah serta Pustaka HAMKA, melihat Koto Gadang sebagai pusat kerajinan perak sekaligus negeri kelahiran Agus Salim, ke Bukittinggi melihat replika kediaman Bung Hatta dan ke Pagaruyung melihat Istano keluarga Pagaruyung dan replika Istano Basa Pagaruyung (terbakar 27 Feberuari 2007), ke Pandai Sikek, di samping melihat kerajian tenunan dan kerajinan ukiran kayu juga mengingat sejarah salah seorang tokoh gerakan Islam H Miskin pada awal abad ke 19. Ke Bonjol untuk melihat peninggalan Tuanku Imam Bonjol dan seterusnya.
Budaya Minangkabau yang dapat ‘dieksploitasi’ sebagai magnit untuk menarik arus wisatawan agar datang ke Sumatera Barat agaknya cukup berlimpah-ruah dan berpuspa-ragam. Mulai dari arsitektur Rumah Gadang atau Rumah Adat Minang dengan ciri khas gonjong atau lancip menjulang langit seperti tanduk kerbau dan ukiran-ukirannya bermakna filosofis[12] sampai ke upacara-upacara adat dan prosesi perkawinan serta siklus hidup anak manusia sejak dari melamar pasangan, pertunangan sampai ke pernikahan pesta perkawinan dengan acara turunannya seperti melamar, batunangan (pertuangan), malam bainai (memberi warna dengan daun inai pada jari dan telapak kaki dan tangan, babako dan seterusnya. Begitu pula upacara keluarga: kelahiran anak, akikah, turun mandi dan kebiasaan berbisan-bermenantu, sampai ke upacaya kematian dan seterusnya.[13] Beriringan dengan itu, Sumatera Barat cukup kaya pula dengan hari-hari keramaian memperingati budaya agama seperti ziarah basapa ke makam Syekh Burhanudin di Ulakan Pariaman.[14] Begitu pula upacara berdasarkan sejarah tradisi yang disandarkan kepada peringatan kematian cucu Rasulullah Hasan-Husen Putra Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Al-Zahra yang disebut Mahoyak Tabuik (Mahoyak Usen) di Pariaman.[15]
Lebih dari itu Sumbar kaya dengan atraksi budaya tradisional yang unik, menyejukkan dan bermakna luhur. Mulai dari aneka permainan anak nagari seperti bersilat (silek) , berandai (randai), bersalung (basaluang), berebab (barabab) sampai kepada aneka tarian dengan gerak dasar silat seperti tari pasambahan, tari piring, tari layang-layang, tari payung, tari barambah mandi, tari ulu ambek. Perlu dicatat pula meskipun bukan asli Minang tetapi dari Portugis, maka di Padang dan daerah Pesisir Barat Sumbar ada pula gabungan tari dan nyanyi yang disebut Balanse Madam. Aneka tarian tadi ada yang dirangkai kan pula dengan musik tradisional dan bunyi-bunyian dari talempong (canang), gong, tasa (tambur), bansi (seruling dari batang padi), kucapi sampai ke salawat dulang serta bagenggong (terbuat dari besi yang dimainkan di mulut) dan basijobang (kotak korek api yang dimainkan dengan tangan), dan lain sebagainya.
Serempak dengan itu pada masyarakat Minang, yang biasa disebut di luar sana dengan “orang Padang” atau “urang awak” memiliki potensi surganya wisata kuliner, kulineria atau wisata-makan . Ciri khasnya tentu saja untuk makanan atau hidangan utama bersama nasi (main-course) adalah yang pedas-pedas, asam dan asin serta untuk hal-hal tertentu banyak santannya. Tetapi sekarang, ibu-ibu dan wanita Minang serta para koki rumah makan atau resto Padang, sudah dapat menyesuaikan dengan kepentingan kesehatan dan selera modern. Maka semua lidah domistik atau asing tidak sulit mencicipi atau melahapnya. Sebutlah contoh-contoh berikut.
Mulai dari rendang dengan turunannya: rendang daging biasa (sapi atau kerbau), rendang belut (ikan belut) rendang ayam, rendang telur, rendang lokan, rendang gulai paku. Ayam goreng juga dengan turunannya: ayam goreng pop, ayam goreng bumbu, ayam goreng kampuang, ayam goreng balado. Nasi kunyit, nasi lemak, nasi pulut dan goreng pisang (katan jo goreang pisang). Sate dengan sate Piaman, sate Padang, sate Danguang-danguang. Gulai kambing, gulai itiak (gulai bebek), gulai paku dengan kincung. Adapula dendeng balado, dendeng batokok, dendeng ayam batokok, gulai cubadak, gulai kamumu (kemumu), gulai pisang, gulai pario, gulai naneh (nenas) goreng balado, patai balado. Juga berbagai jenis kalio (gulai dengan santan agak kental): kalio ati, kalio banak, kalio daging, kalio patai jo bada, kalio jariang kalio, kapalo ikan capa, gulai ikan kaluih. Makanan ringan atau cemilan: martabak Mesir atau martabak Kubang, paniaram, onde-onde, kue bolu, kue loyang, godok ubi, katupek gulai paku, katupek cubadak, katupek pandai sikek, botieh, kalamai, karupuak sanjai biasa dan nan balado, sagun-sagun dan seterusnya.



























Potensi Pariwisata Budaya Sumbar

NO
Bentuk Budaya
Nama
Daerah/Masyarakat Pendukung
1
Cagar Budaya
Masjid bersejarah
Tanah Datar dan Solok Selatan


Rumah Gadang
Tanah Datar dan Solok Selatan


Gedung dan Peralatan Tambang zaman kolonial
Padang dan Sawahlunto


Menhir dan Candi
50 Koto dan Sijunjung


Jam Gadang
Bukittinggi


Kediaman Tokoh dan Pustaka
Bukittinggi, Maninjau dan Batusangkar


Istano Rajo
Batusangkar


Bekas Rajo Tigo Selo dan Basa Ampek Balai
Tanah Datar dan Sijunjung
2
Kesenian anak nagari
Tari Minang dan Randai
Semua Daerah


Tari Indang dan Ulu Ambek, Debus
Pariaman


Basijobang
Payakumbuh- Limapuluhkoto


Salawat Dulang
Solok Kota dan Kabupaten


Rabab
Pesisir Selatan dan Padang
3
Uapacara Perkawinan
Malam Bainai, Majapuik Marapulai, Karumah Bako, Manjalang Mintuo
Semua Daerah
4
Tradisi dari inspirasi budaya Agama
Basapa dan Tabuik
Pariaman
5
Olahraga Rakyat dan Permainan anak nagari
Adu Kabau (Mengadu Kerbau) Pacu Kuda, Pacu itik (bebek), Pacu Belut, lomba sapi membajak dan adu kerbau
Koto Baru, Aie Angek dan Pariangan, Tanah Datar Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, 50 Koto, Sawahlunto
8
Kerajinan
Tenunan, Ukiran Kayu, dan kerajinan Tangan lainnya
Pandai Sikek Tanah Datar, Silungkang, Sawahlunto
7
Kuliner
Semua jenis makanan
Semua di 19 daerah Kota dan Kabupaten Sumbar




IV. [re]Packaging dan Peningkatan Kognisi Masyarakat.
Berbagai situs kepariwisataan, alami maupun budaya, telah kita bicarakan diatas. Ini hanya secuil tinjauan umum dan tentu saja diperlukan secara menyeluruh pengemasan ulang serta strategi yang lebih pas mengenai pengembangan potensi wisata dengan manajemen dan konsep yang baik. Tentu saja dalam tulisan ini masih banyak elemen-elemen kepariwisataan saat ini yang, bahkan, belum dielaborasi. Bagaimanapun juga, bagi para stake-holders kepariwisataan Sumbar, sebaiknya kita merefleksikan apa yang harus dilakukan dengan potensi yang dimiliki saat ini.
Tentu saja yang paling penting dilakukan (the must to do) adalah pembangunan sarana dan prasarana di samping bersifat fisik-materil tak kalah yang bersifat cara padang, world-view dan internalisasi nilai-nilai yang mendukung kepariwisataan itu sendiri. Pembangunan sarana dan prasarana supra-struktur yang bersifat fisik-materil, misalnya, aksesibilitas transportasi, aksesibiltas informasi, infrastruktur yang beradab, dan lain sebagainya. Adapun pembangunan prasarana dan prasana infra-struktur yang non-fisik materil dalam tulisan ini ditujukan pada pembangunan atau rekonstruksi kognisi signifikansi kepariwisataan oleh masyarakat Sumatera Barat. Karena, sebagus apapun sarana fisik yang dimiliki jika tanpa dibarengi dengan kognisi dan nilai-nilai, dapat dipastikan target-target yang telah dicanangkan akan menghasilkan kesia-siaan saja.
Dalam upaya[16] mengkonstruksi kognisi signifikansi kepariwasataan, terdapat tuntutan yang lebih besar pada salah satu pihak yang kita sebut sebagai norms entrepeneur.[17] Dalam hal ini, kemudian, Pemerintah Daerah yang merupakan norms entrepreneur memiliki otoritas untuk mengisukan suatu norma agar menjadi sebuah norma yang dipahami dan diakui bersama. Proses pengisuan norma itu terjadi dalam proses yang disebut dengan the norm life cycle. Proses ini terjadi melalui tiga tahap yaitu norm emergence, norm cascade dan internalization.[18] Norm emergence adalah proses munculnya suatu norma atau proses penciptaan norma. Kemunculan suatu norma selalu diliputi oleh adanya peranan manusia, indeterminasi, terjadinya perubahan, kejadian-kejadian sengaja, dan menggunakan proses pelacakan (tracing) atau metode genealogi.[19] Kemunculan suatu norma selalu berjalan di dalam logika kesesuaian atau logic of appropiateness yaitu suatu logika di mana norma yang baru akan selalu bertentangan dengan norma yang sudah ada. Dalam proses ini para norms entrepeneur melaksanakan aksi-aksi yang sering kali (untuk tidak mengatakan selalu) bertentangan dengan kebiasaan yang ada. Proses ini kemudian akan menyebabkan kemunculan norma menjadi norma yang mulai dikenal. Artinya norma yang diperjuangkan oleh para norm entrepeneur mulai dikenal oleh orang banyak. Proses ini kemudian dikenal sebagai tipping point.[20]
Setelah melalui proses tipping point, norma akan mengalami proses norm cascade yang merujuk pada proses penyebaran norma di mana pihak-pihak lain mulai mengadopsi norma tersebut. Proses penyebaran norma ini dilakukan melalui sosialisasi di mana biasanya pemimpin norma tersebut mengajak pihak lain untuk mentaati norma baru tersebut.
Proses ketiga ialah internalization. Proses ini merujuk pada kondisi di mana norma yang telah tersebar luas diterima dengan suka rela dan tanpa paksaan sedikitpun. Bahkan norma ini telah menjadi sesuatu yang sifatnya ­taken for granted untuk ditaati oleh semua pihak. Ketaatan dalam tahap ini sifatnya otomatis. Dalam tahap ini internalisasi suatu norma bisa bersifat ekstrem dalam artian bisa sangat kuat dan sulit terlihat. Satu hal penting yang menjadi ciri utama tahap ini adalah norma tersebut sifatnya sudah tidak kontroversial sehingga tidak menjadi wacana atau perdebatan publik.[21]

V. Toward A Tourism Society
Sekarang kita gunakan analogi untuk membaca kerangka teoritis diatas. Misalnya pola masyarakat lokal (baca; Minangkabau) dalam memperlakukan wisatawan asing. Masih banyak dalam masyaraakat kita, terutama bagi yang unwell educated, ketika ada wisatawan asing datang ke dalam lingkungan mereka, kemudian mereka menonton dan mengikuti kemana sang/para wisatawan tersebut secara beramai-ramai. Hal ini, tentu saja, menimbulkan rasa yang tidak nyaman bagi wisatawan tersebut. Begitu pula nilai-nilai disiplin waktu, kebersihan, tegur sapa, dan pelayanan salam, senyum sapa yang dulu di zaman Menparpostel Susilo Sudarman disebut Sapta Pesona Wisata masih tetap relevan. Nilai-nilai agama dan adat Minangkabau yang selalu diagungkan : “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” tentu saja harus dipegang teguh. Tetapi hal itu itu tidaklah mengurangi kognisi dan apresiasi kepada wisatawan baik domistik maupun mancanegara. Dalam kasus ini, hendaknya masyarakat Minangkabau dapat belajar secara arif dengan kognisi masyarakat Bali, tentang bagaimana cara mereka memperlakukan wisatawan asing. Masyarakat Bali, menerapkan konsep yang indiskriminatif dalam memperlakukan wisatawan asing. Artinya, para wisatawan tersebut, tidak mendapatkan privileges dan juga tidak mendapatkan perlakuan yang bisa mengganggu kenyamanan para wisatawan.
Contoh diatas, merupakan tugas bagi para norms entrepreneur (baca; Pemda) dalam membangun, mengkonstruksi nilai-nilai dan norma-norma baru kepada masyarakat. Dengan menerapkan analogi diatas, maka tugas Pemda yang pertama adalah memberikan pengertian-pengertian universal kepada masyarakat tentang bagaimana seharusnya masyarakat memperlakukan wisatawan asing (norm emergence). Dan begitu seterusnya sehingga sampai pada tahap internalization.
Tentunya, hal diatas berlaku bagi semua elemen masyarakat; ulama, akademisi, profesional, tokoh adat , bundo kanduang, pemimpin pemuda dan wanita, para sektor usaha yang bergerak di berbagai bidang terutama dunia wisata dan sebagainya untuk meningkatkan keadaan yang sekarang menjadi lebih bermakna dan membudaya sebagai suatu masyarakat wisata. Toward a tourism society . ***
shofwan.karim@gmail.com

DAFTAR BACA

H. Kodiyat, Ramaini. Kamus Pariwisata dan Perhotelan. Jakarta: Grasindo. 1992. Hal

Majalah Suara Muhammadiyah, 1988

Penerbitan Khusus Deparpostel, 1983

A.Hari Karyono, Kepariwisataan, Grasindo, Jakarta, 1997

BAPPEDA dan BPS Sumbar. Sumatera Barat dalam Angka, 2005.

Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Provinsi Sumatera Barat. Kumpulan Makalah Kongres Kebudayaan dan Apresiasi Seni Budaya Minangkabau, Padang 28-30 November 2006 di Padang .

Tiziana and Gianni Baldizzone, Antonio Guerreiro. Tableaux de Sumatra. Paris. 2000.

Tiziana and Gianni Baldizzone. Wedding Ceremonies: Ehtnic Symbols, Costume and Rituals.Italy: Noces, Flammarion. 2001. hal. 187-220

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2006/1/27/o3.htm


[1] Disampaikan Pada “Annual Lecture dan Seminar Mengenang Tokoh Diplomasi Bung Hatta: Apresiasi Perjalanan 50 Tahun Hubungan Diplomatik RI-Malaysia”, kerjasama Universitas Andalas dengan Deplu RI (Dit. Asia Timur & Pasifik dan Dit. Diplomasi Publik) dan KBRI Kuala Lumpur di Padang, Kamis, 19 April 2007.
[2] Drs. H. Shofwan Karim Elha, MA, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Dosen IAN Imam Bonjol Padang dan aktivis masyarakat.
[3] http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2006/1/27/o3.htm
[4] Ibid

[5] H. Kodiyat, Ramaini. Kamus Pariwisata dan Perhotelan. Jakarta: Grasindo. 1992. Hal.
[6] Suara Muhammadiyah, 1988:22
[7] Deparpostel, 1983
[8] A.Hari Karyono, Kepariwisataan, Grasindo, Jakarta, 1997, hal 9
[9] Ibid, hal 9-10
[10] BAPPEDA dan BPS Sumbar. Sumatera Barat dalam Angka, 2005. hal. 375-386
[11] Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Provinsi Sumatera Barat. Kumpulan Makalah Kongres Kebudayaan dan Apresiasi Seni Budaya Minangkabau, Padang 28-30 November 2006 di Padang .
[12] Tiziana and Gianni Baldizzone, Antonio Guerreiro. Tableaux de Sumatra. Paris. 2000. Hal. 77-141.
[13] Tiziana and Gianni Baldizzone. Wedding Ceremonies: Ehtnic Symbols, Costume and Rituals.Italy: Noces, Flammarion. 2001. hal. 187-220
[14] Dilakukan pada pertengahan bulan Shafar pada kalender Islam Qamariah setiap tahun yang didatangai oleh para kaum muslimin yang umumnya mereka berasal dari penganut Thariqat Syathariah dari pelosok Sumbar, Jambi, Bengkulu dan Riau.
[15] Tahun lalu, menurut www.minang.net, telah ditampilkan acara Mahoyak Tabuik dalam City, AS.
[16] Upaya ini diperlukan agar sebuah ide menjadi mekanisme yang bersifat real. Dalam kajian teoritis tentang filsafat ilmu bagian ini termasuk didalam mapping strukturisasi teori dimana cara pandang seseorang terhadap dunia dapat dilakukan melalui sudut pandang ide dan sudut pandang materi. Dengan dasar pemikiran ini maka untuk mewujudkan ide menjadi “sesuatu” yang secara nyata berguna bagi manusia maka ide tersebut harus di down to earth kan menjadi praksis praksis yang dapat dijalankan.
[17] Norm entrepreneur sangat penting bagi pembentukan norma karena mereka adalah aktor utama dalam pengisuan dan, bahkan, menciptakan isu-isu tertentu. Dalam teori-teori pergerakan sosial proses ini disebut “framing”. Lihat Martha Finnamore dan Kathryn Sikkink, International Norm Dynamicz and Political Change, dalam International Organizations 52, Autumn IV, 1998, hal 897
[18] Ibid
[19] Tracing dan geneology merupakan cara-cara yang dipergunakan oleh posmodernisme dalam mencari kebeneran
[20] Loc.cit, hal 901
[21] Ibid, hal 904

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa Al-Azhar University, Kairo, Mesir dari Minangkabau

“Mengejar Moncong Putih, Matahari dan Ka’bah”, Catatan Harian 15 Agustus 2016.